Langit Bumi

Diposting oleh Rohim pada 06:21, 04-Apr-15

Hari ini tampak cerah. Deburan ombak yang terdengar gemuruh di tambah kicauan burung-burung yang seperti sedang bernyanyi. Suara bel sepeda pun terdengar dari luar. Riani segera membuka pintu dan dilihatnya Ardian tengah berdiri menaiki sepeda. Ia terlihat lebih keren dengan kaos pendek dan topinya. “Buruan dong, keburu siang nih. Katanya mau keliling naik sepeda.” ucap Ardian. “Iya bawel, aku ambil sepeda dulu.” ucap Riani. Mereka siap untuk pergi berkeliling dengan bersepeda santai. Mereka memanfaatkan waktu yang tersisa untuk bersenang-senang, sebelum mereka kembali ke Surabaya. Dikarenakan tugas penelitian tentang kebudayaan mereka ditugaskan pergi ke Bali selama dua minggu. mereka ditugaskan pergi ke Bali selama dua minggu. Mereka harus mendeadline laporan tersebut agar mereka bisa cepat pulang dan ketinggalan materi.

Puas berkeliling mereka beristirahat dan mampir ke sebuah rumah makan. Sambil membiacarakan rencana kepulangan ke Surabaya. Riani teringat sosok cowok yang ia temui kemarin di pantai. Melihat Riani yang tengah melamun, Ardian berniat mengngagetinya dan ia pun berhasil. Riani benar-benar kaget. Di bawah sinar matahari yang terik, Ardian mencoba berkeliling mencari sebuah hadiah yang ingin ia berikan pada Riani. Ia berencana akan menyatakan perasaannya pada Riani mala mini. Sebagai malam terakir di Bali, Ardian mengajak Riani makan malam bersama. Ia tak sabar melihat ekspresi Riani akan seperti apa. Diterima atau tidak itu urusan belakangan, yang penting ia akan merasa lega. Riani yang sedang menikmati suasana sore hari, bertemu kembali dengan sosok cowok itu. Kali ini cowok tersebut benar-benar mendatanginya. Ia merasa sedikit senang.

“Hai, sendirian aja nih. Mana pacar kamu itu? Kok nggak kelihatan.” ucap cowok itu. “Pacar? Aku sendirian kok. Lagian aku belum punya pacar. Kalau yang biasanya sama aku itu sahabatku.” jelas Riani. “Oh, aku kira dia pacar kamu. Bagus deh kalau gitu. Aku Niko, nama kamu?” ucap cowok itu. “Aku Riani.” Riani dan Niko pun melewati sore hari bersama-sama. Mereka saling bertukar cerita dan bercanda bersama. Entah apa yang dirasakan Niko. Sepertinya ia sangat ingin mengenal Riani lebih jauh. Begitu pun dengan Riani, perasaannya sangat senang saat bersama Niko. Ia seperti tak ingin Niko pergi. Niko mengantar Riani kembali ke penginapan. Rasanya berat untuk pergi meninggalkan Riani. Tapi ia harus pergi. Ia tak mau berharap suatu hal yang tak pasti. Sebelum pergi Niko memberi Riani sebuah kotak.

“Tolong simpan ini baik-baik untukku.” ucap Niko. “Apa ini?” tanya Riani. “Nanti kamu juga tahu. Kamu boleh buka setelah kamu pergi dari sini. Karena saat itu aku sudah pergi dari sini.” ucap Niko. Tanpa membalas perkataan Niko, Riani segera masuk dan meninggalkan Niko. Ia berdiri di samping jendela dan melihat Niko melangkah pergi meninggalkan penginapannya. Riani tak bisa berkata apa-apa. Tiba-tiba air matanya menetes. Ia tak tahu perasaan apa yang ia rasakan, ia ingin Niko selalu ada bersamanya namun itu tak mungkin. Kini Niko telah pergi. Riani benar-benar merasa kehilangan, belum pernah ia merasa kehilangan seperti ini. Riani teringat akan janjinya makan malam bersama Ardian. Ia segera bersiap-siap untuk pergi ke restoran. Ia tak mau terlambat. Sesampainya di depan restoran, ia melihat Ardian telah menunggunya. Mereka segera masuk. Ardian membawa Riani ke tempat khusus yang telah ia pesan. Riani merasa bingung dengan semua perlakuan Ardian. Ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri, sebenarnya ada apa dengan Ardian. Hidangan pun datang, mereka segera memakannya. Diiringi dengan alunan musik yang syahdu menambah suasana menjadi tabah romantis.

Selesai makan, Ardian menatap Riani terus menerus. Sampai Riani bingung sendiri. Akhirnya Ardian memulai pembicaraan. Ia mulai bercerita tentang dirinya saat bersama Riani dan perasaan yang ia rasakan. Ardian pun menyatakan perasaannya pada Riani. Riani yang mendengar semua itu terengang kaget. Ia tak tahu harus berkata apa, ia tak bisa menjawab. Ia hanya terdiam. Suasana pun menjadi sunyi. Setelah malam kemarin, semuanya kembali seperti semula. Ardian menjemput Riani di penginapan dan mereka segera menuju ke bandara. Inilah hari terakhir mereka kembali ke Surabaya. Riani masih saja terdiam, ia takut Ardian marah. “Kamu kenapa sih diam saja dari tadi. Kamu sakit or lagi bad mood?” ucap Ardian. “Nggak kok, aku takut saja kamu marah gara-gara kejadian kemarin.” ucap Riani. “Riani… Riani… kenapa aku musti marah sih, cuma gara-gara hal sepele kayak gitu. Justru aku takut kalau kamu akan pergi meinggalkanku hanya karena kejadian semalam. Aku itu nggak bisa marah sama kamu.” ucap Ardian.

“Kamu beneran nggak marah kan? Syukurlah.” ucap Riani. “Aku tahu kok alasan kamu. Sekarang aku merasa lega karena tak ada lagi yang harus aku sembunyikan.” ucap Ardian. Riani tersenyum sangat lega dan senang karena kejadian semalam tak akan merusak persahabatannya dengan Ardian. Aku yakin kamu akan mendapatkan orang yang jauh lebih baik dariku, Ardian, ucap Riani dalam hati. Enam bulan kemudian… Ardian berlari mengelilingi kampus mencari Riani. Ia mendengar kabar dari dosennya jika Riani akan dipindahkan orangtuanya ke Australia. Ardian ingin tahu apa alasan Riani pindah. Ia khawatir pada keadaan Riani. Karena sudah beberapa hari ia tak masuk, ia juga tak bisa dihubungi. Riani hanya bias menuruti kemauan ayahnya. Tak ada pilihan lain, mungkin disana nanti ia bisa melupakan Niko. Ardian mendatangi rumah Riani. Dan akhirnya ia bisa bertemu Riani. Ia pun langsung memberi banyak pertanyaan pada sahabatnya itu. Riani tak tahu harus menjelaskannya mulai darimana. “Apa harus kamu pergi ke Australia? Apa nggak ada cara lain untuk melupakan cowok itu?” tanya Ardian. “Ayah yang minta aku untuk pergi kesana. Aku sendiri juga bingung. Saat aku tanya apa alasannya, ayah hanya bilang ada seseorang yang telah menungguku disana. Aku pikir mungkin disana aku bisa melupakan Niko.” ucap Riani.

“Siapa orang yang menunggumu?” tanya Ardian. “Entahlah, aku tak mau tau soal orang itu. Yang pasti dia bukan Niko.” “Apa kamu masih mengharapkan Niko?” tanya Ardian. “Tentu saja tidak. Walaupun aku belum bisa melupakannya. Cinta itu nggak harus selalu ditunggu dan dikejar. Kalau jodoh pasti ketemu lagi.” ucap Riani. Ardian hanya terdiam. Ia menatap Riani yang begitu tegar dan tak ambil pusing soal cinta. Mungkin benar, jika nanti Riani pergi ke Australia, dia akan menemukan pengganti Niko. Riani memandang keluar, ia lihat tetesan air hujan yang jatuh bebas ke bumi. Air itu jatuh tanpa beban. Tuhan, bisakah aku melupakan Niko, batin Riani. Berat rasanya tuk melupakan orang pertama yang membuatnya merasakan jatuh cinta. Dua minggu terakhir, Riani selalu mendapat kiriman bunga. Entah siapa pengirim bunga itu. Setiap pagi ketika ia membuka pintu depan rumah pasti ada bungan dan secarik kertas yang berisikan sebuah kata-kata indah. Riani sempat takut dengan kejadian ini. Ia pun meminta Ardian untuk mencari tau pengirim bunga tersebut. Namun, Ardian tak juga menemukannya. Ini memang aneh, seolah-olah pengirim bunga ini sudah mengenal Riani dan sudah lama tak bertemu dengan Riani.

“Mungkin dia orang yang kamu kenal tapi dia menyembunyikan identitasnya.” ucap Ardian. “Buat apa juga ngirimin bunga setiap hari.” Ucap Riani. “Penggemar kali.” ucap Ardian. Seminggu menjelang pesta pearayaan hari ulang tahun Riani, ia mendapat sebuah bunga disertai surat dan beberapa foto dirinya saat berada di Bali. Ia sangat kaget melihat foto itu. Siapa sebenarnya pengirim bunga itu. Apa maksud dari semua ini. Semua persiapan telah selesai. Acara pesta perayaan pun siap digelar. Tepat pukul 20.00 WIB, pesta akan dimulai. Riani merasa sedikit tegang dan sedih karena ia harus berpisah dengan teman-temannya. Ardian pun menyusul Riani karenan ia tak kunjung keluar. “Kok masih disini, temen-temen sudah menunggumu. Ayo keluar.” Ucap Ardian. “Iya, bentar lagi aku kesana.” ucap Riani. “Kamu kenapa sih? Apa ada yang mengganggumu?” tanya Ardian. “Ayah belum datang, entah kenapa perasaanku sedikit kacau.” ucap Riani. “Itu mungkin karena malam ini adalah malam perpisahan. Sudahlah, sekarang waktuya kamu untuk bersenang-senang.” ucap Ardian.

Riani pun beranjak dari kamarnya dan menuju ke tempat pesta. Ia menyambut kedatangan teman-temannya. Ia merasa senang karena orang-orang yang ia sayang telah datang ikut merayakan pesta ulang tahunnya. Satu demi satu acara pun dimulai. Sampai pada akhirnya adalah acara inti. Acara tiup lilin yang tak akan pernah ketinggalan. “Ok, sebelumnya kamu harus make a wish dulu.” ucap Ardian. Riani pun membuat permohonan. Tuhan pertemukan aku dengan Niko, mala mini juga, sebelum aku berangkat ke Australia besok, batin Riani. Kemudian ia tiup lilin yang telah tertata di atas kue. “Ok, teman-teman malam ini Riani mendapatkan kado spesial dari someone lho. Mau tahu nggak kira-kira siapa orangnya.” ucap MC. “Siapa tuh?” sorak Ardian dan teman-teman. “Pertama kita lihat dulu layar yang berada di belakang kalian. Mulai.” ucap MC. Tiba-tiba di sebuah layar ditayangkan foto-foto Riani dan ada beberapa kata-kata yang tak asing baginya. Ia teringat kata-kata itu ia dapat dari pengirim bunga yang misterius. Dan foto-foto itu ketika ia berada di Bali. Ia semakin bingung, siapa yang melakukan semua ini. Apakah mungkin, batin Riani. Tapi ia tak mau menduga-duga.

Dari belakang terdengar suara seorang laki-laki yang tak asing lagi di telinganya. Riani berpikir mungkin hanya suaranya saja yang sama. “Riani, Happy Birthday.” ucap Niko. “Niko.” Ucap Riani sambil menoleh ke belakang. “Ini beneran kamu. Aku nggak mimpi.” lanjutnya. “Ini bukan mimpi. Maaf karena telah membuatmu menunggu selama ini. Maaf juga karena membuatmu takut dan khawatir.” ucap Niko. “Jadi, pengirim bunga itu…” ucap Riani. “Ya… itu aku. Habis kamu aku tunggu-tunggu nggak datang, jadi aku balik ke Indonesia.” Ucap Niko. “Jadi, maksud ayah ada yang nunggu aku disana itu kamu.” ucap Riani. “Iya. Terkadang cinta itu nggak perlu di kejar dan nggak usah di tunggu. Tapi karena aku tak ingin kehilangan kamu dan cintamu, makanya aku kesini. Dan aku punya kado spesial buat kamu.” ucap Niko sambil memberikan sebuah kotak cincin pada Riani. Semua anak pun bersorak. Riani juga tak menyangka jika selama ini Niko juga mempunyai perasaan yang sama dengan dirinya. Tak lama kemudian ayah Riani pun datang. Riani menyambut kedatangan ayahnya.

“Selamat ulang tahun putriku.” ucap Ayah Riani. “Terima kasih ayah.” ucap Riani. “Dan ayah punya berita penting untukmu. Semuanya dengarkan. Besok Riani tidak jadi pergi ke Australia.” ucap ayah Riani. “Apa? Ayah nggak bercanda kan?” tanya Riani. “Iya, untuk apa juga kamu kesana. Toh pekerjaan ayah disana juga sudah selesai. Dan orang yang menunggumu juga sudah berada disini.” ucap Ayah. Awalnya Riani bingung, namun setelah acara pesta berakhir Niko dan ayah Riani pun menjelaskan semuanya. Riani sangat senang karena orang yang ia sangat sayangi sekarang berada di sisinya. Ternyata jodoh itu pasti bertemu kembali. Jadi, jangan bingung ketika kehilangan seseorang yang kita cintai, mungkin Tuhan telah menyiapkan orang yang jauh lebih baik dari orang itu.

Cerpen Karangan: Umi Kusnul K

You Are My Destiny

Diposting oleh Rohim pada 22:29, 19-Mar-15

ThumbnailSonia menghempaskan tubuhnya di sofa ruang keluarga. Ia menghirup nafas panjang dengan lega. Kuliah semester ini telah berakhir dengan IP yang memuaskan. Ia menyambut liburan dengan penuh suka cita. Ayahnya sudah berjanji untuk mengizinkannya liburan di villa milik keluarga. Ayah Sonia seorang pengusaha sukses dan ternama. Banyak pria yang ingin mendapatkan hati Sonia, seorang putri tunggal pengusaha kaya. Tapi belum... [Baca selengkapnya]

Semua Tentang Kita

Diposting oleh Rohim pada 00:56, 17-Peb-15

Karya Putri Ayu Paundan Cerpen Cinta Sedih Namaku natasya, aku pernah mencintai seseorang dengan tulus. Tapi, semua ketulusan cintaku padanya berakhir sia-sia. “Natasya, jangan sedih terus dong. Senyuum.” kata sahabatku dewi sambil mencari tisu di meja rias kamarku “gue gak bisa dew, gue ga terima dia ninggalin gue, pergi gitu aja tanpa pamit.” Arya adalah seorang cowok yang sangat aku sayangi,... [Baca selengkapnya]

Cinta Menghapus Kesedihanku (Bagian 2)

Diposting oleh Rohim pada 05:41, 12-Peb-15

“Ih.. apaan sih!” Jawabku malu. “Tuh.. tuh mukamu merah, hahahaha kau tak bisa membohongiku sahabat!” Ucap Lisa sembari tangannya menunjuk mukaku. “Iya sahabat, aku mengakuinya, puas?” Tanyaku dengan marah yang dibuat-buat. “Hahaha puas sekali Putri, akhirnya kau tak jadi perawan tua Put.” “Ihhh sudah ahh. Lisa!!! Baju mana yang cocok untuk ku kenakan saat jalan bersama Andri nanti?“. Pekikku “Hmmmmm... [Baca selengkapnya]

Cinta menghapus kesedihanku (Bagian 1)

Diposting oleh Rohim pada 02:57, 11-Peb-15

Hari itu begitu terasa membosankan untukku. Bagiku semua hari terasa sama, ya memang setiap harinya berbeda-beda nama, tapi tetap sama saja rasanya tak ada bedanya bagiku. Ya tentu saja hanya bagiku seorang. Hal pertama yang mebuatku begini karena “Dia”. Dia yang ku maksud adalah ibuku, wanita itu membuat aku dan ayahku selalu merindukannya. Bagaimana tidak semenjak kepergiannya aku hanya tinggal berdua... [Baca selengkapnya]

My First Sight

Diposting oleh Rohim pada 06:02, 10-Peb-15

Judul: My First Sight. Karya: Titik Farida Selesai mengumpulkan semua data Nindi bergegas menyetorkanya pada guru kelas. Tiba-tiba sebersit ide jahil terlintas dipikiranya. Gadis itu mengambil lembaran milik Lian lalu membaca biodatanya singkat. Saat sampai pada bagian alamat, Nindi sedikit bingung dengat alamat yang dituliskan. Kompleks Batoro Katong Blok D No.10, daerah itu adalah kawasan dimana Nindi tinggal anehnya dia tak... [Baca selengkapnya]

Tolong Bilang I Love You

Diposting oleh Rohim pada 02:19, 09-Peb-15

ThumbnailJudul: Tolong Bilang I Love You Kerya: Andri A. Hakim Aku menangis sedih, sedih sekali. Wajahnya selalu terbayang di dalam ingatanku. Aku tidak bisa melupakan kejadian itu, kejadian yang membuatku jadi gila karenanya. Hari ini aku pergi sekolah dengan perasaan kalut. Tatapan mataku yang kosong membuat teman sekelasku tidak ingin bicara padaku kecuali Rini. Seusai sekolah Rini main ke rumahku. “Permisi, Ana... [Baca selengkapnya]